Bubur Bareto

Awalnya saya tidak tahu ada penjual bubur (legendaris) yang sudah terkenal di Bandung, kalau saja salah satu teman pemburu kuliner tidak bilang. Knowledge saya stuck di Bubur PR, Bubur Andir, Bubur Mang Oyo dan Bubur Pa Amid saja.

Pernah dengar Bubur Bareto? Mungkin saja baru dengar seperti saya, kan? Lokasinya persis mangkal di samping Hotel Hilton Bandung, tepatnya di Jl. Gedong Sembilan, kalau dari jalan besar Paskal belok kiri, kira-kira 100m, ada di kiri jalan. Dilihat sepintas, tak ada yang istimewa dengan tempat ini, sama seperti tukang bubur pinggir jalan pada umumnya, malahan saya kurang tertarik untuk mampir, begitu kesan pertama melihatnya. Kenapa? Karena saat itu (sekitar jam 8 malam) sama sekali tidak ada pembeli. Sang penjual tengah melamun di belakang gerobak bubur menunggu datangnya rejeki. Hanya kekuatan rekomendasi mulut ke mulut saja yang akhirnya “memaksa” saya untuk mencobanya.

Oya, kalau sedang PMS, wahai para wanita, atau lagi bete & sensi, disarankan jangan dulu mampir ke sini, tunggu sampai mood-nya membaik. Bapak penjualnya becanda mulu selama meracik pesanan bubur kita.

Bahkan kalau tidak paham, bisa saja tersulut emosi, beneran!

Bapak itu memang unik, seunik Bubur Bareto yang cenah sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, dan dia adalah generasi kedua yang melanjutkan jualan.

Lalu apa istimewanya Bubur Bareto? Pertama, bubur ini disajikan di atas piring, bukan mangkuk seperti umumnya. Terlihat oleh mata, porsinya sedikit, sampai-sampai dalam hati saya bergumam;

Dikit amat buburnya, alamat kagak kenyang!

Tetapi pemikiran itu seketika lenyap, begitu kelar menyantap habis bubur ayam itu, meski kekeuh ya, bapak penjualnya tidak mau menyebut kuliner ini sebagai Bubur Ayam, melainkan Bubur Bareto. Iya deh iya… Hati-hati kalau ditawari sambel “jahat/nakal”, itu artinya pedes (banget), amannya minta saja sabel “baek”, di mana kepedasannya masih bisa ditoleransi.

Pada dasarnya, Bubur Bareto ini kalau dicicipi sebelum ditambah topping/bumbu rasanya plain alias benar-benar tawar. Tipikal bubur ini default pake kecap. Jangan khawatir bagi yang kurang suka kecap, hasil akhirnya enak kok, komposisinya pas. Pelengkapnya tentu saja kita diberi sepiring kerupuk, tetapi bukan kerupuk Sumber Sari, melainkan kerupuk aci berwarna merah yang diberi topping sambel. Tertarik? coba saja! Jangan lupa siapkan mental buat dibecandain mamang-nya sepanjang makan.

Harga sepiring Bubur Bareto hanya 15.000 saja (Oktober 2019), nilai yang pas, gak mahal gak juga murah. How about the taste? It’s delicious enough, worth trying.

 

Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started